Akibat Orangtua Berlidah Tajam dan Kejam …


Ada kalanya orangtua tidak menyadari bahwa kata-kata yang kejam memiliki kekuatan lebih hebat ketimbang palu godam sekalipun.

Kendalikan ucapan Anda, bila tak ingin anak-anak mengalami luka batin hingga memengaruhi perkembangan mereka. Dari penampilan fisiknya, Rudy adalah pria yang sangat menarik. Tubuhnya atletis, wajahnya tampan dengan rambut hitam lebat. Dengan profesinya sebagai dokter dan mapan secara ekonomi, sempurnalah pria 46 tahun ini sebagai sosok idaman.

Namun, di balik gambaran ideal itu, Rudy memiliki kekurangan yang sangat besar. Setiap kali berbicara, yang keluar hanya suara sangat lirih, sehingga pasien maupun lawan bicaranya sering kesulitan untuk mendengarkan ucapannya.

"Saya sangat sensitif terhadap kata-kata orang lain. Saya selalu berpikir bahwa setiap orang pasti menertawakan saya. Sepertinya istri saya selalu mengejek saya, begitu juga pasien saya. Pada tengah malam saya selalu terbangun, lalu merenungkan setiap kata yang diucapkan orang-orang hari itu kepada saya," cerita Rudy, yang sempat mengira dirinya sakit jiwa.

Ketika ditelusuri, di masa kecilnya ia selalu menjadi bahan ledekan atau ejekan ayahnya. Tanpa disadari oleh sang ayah, Rudy kecil memendam rasa malu yang luar biasa. Tak lain karena ia merasakan bahwa ledekan atau ejekan-ejekan sang ayah merupakan suatu hinaan.

Ayah sering menyebut saya 'si cacing' karena tubuh saya sangat kurus. Dia juga sering berkata bahwa saya bukan anaknya, melainkan anak yang dipungut dari tempat sampah," kisah Rudy memelas.

Dalam hati kecil Rudy sangat membenci ayahnya, sekaligus membenci dirinya sendiri karena merasa begitu buruk dan tak berguna. "Cacing dan tempat sampah adalah dua hal yang sama-sama menjijikkan," tambah Rudy yang sedang menjalani terapi ini.

Kekerasan Verbal

Boleh jadi orangtua yang menyebut anaknya "Si Goblok" atau "Si Biang Kerok" atau Si "Pengacau" atau "Si Lelet" dan sejenisnya menganggap semua itu sebagai hal biasa saja. Bahkan, julukan semacam itu mungkin diberikan dengan harapan anak yang bersangkutan menyadari kekurangannya.

Mungkin Anda tak pernah membayangkan bahwa julukan buruk, sebutan negatif, komentar melecehkan, kritik yang bernada menghina, dan ungkapan yang merendahkan itu memberikan pesan yang luar biasa negatif kepada anak-anak tentang siapa diri mereka.

Banyak anak yang mengalami kekerasan secara verbal (menggunakan kata-kata) menyangkut penampilan fisik mereka, kecerdasan, kemampuan,hingga nilai mereka sebagai manusia.

Menurut DR. Susan Forward dalam bukunya ToxicParents, kekerasan secara verbal disampaikan melalui dua gaya. Yang pertama menyerang anak secara langsung, terbuka, dan secara jahat merendahkan si anak. Contohnya adalah memberikan julukan-julukan seperti yang disebutkan di atas, termasuk menyebut si anak "tak berguna" atau yang paling keras adalah menyatakan "menyesal telah melahirkannya."

Semua, itu memiliki dampak jangka panjang terhadap perasaan anak, dan memengaruhi citra diri mereka.

Kekerasan verbal juga bisa disampaikan secara tidak langsung, tetapi sangat menghina dan melecehkan mereka. Seringkali orangtua membungkus kekejamannya itu dengan nada humor atau canda yang sarkastis. Contohnya, "Lihat tuh kelakuan si jelek dia kan dipungut dari rumah sakit, Kalau anak Mama Papa nggak kayak gitu deh…."

Dan jika si anak atau anggota keluarga lain memprotesnya, orangtua akan membela diri dengan berkata, Ah, 'kan Cuma bercanda."

Orangtua semacam ini lupa bahwa anak-anak sangat mempercayai apa yang diucapkan oleh orangtuanya. Jika orangtua bilang si anak jelek dan bodoh, ia percaya dirinya betul-betul jelek dan bodoh. Karena itu, tidak mudah bagi mereka jika diharapkan mampu membedakan apakah ucapan ayah/ibunya itu serius atau hanya bercanda.

Maksudnya Baik?

Semua orang maklum bahwa kadang-kadang kita sebagai orangtua merasakan jengkel, kecewa, bahkan marah terhadap anak. Kalau mengikuti lirik lagu grup band Serieus: orangtua juga manusia, ayah juga manusia, ibu juga manusia.

Kadang-kadang anak-anak memang sulit diatur, suka berbuat sesuka hati, mengotori rumah tanpa henti, prestasi di sekolah kurang bagus, maunya bermain melulu, kadang berantem, ada yang mulal belajar bohong, kamar tidurnya berantakan, dan sebagainya.

Ditambah dengan beban pekerjaan dan urusan-urusan lain yang berat, semua perilaku anak itu kadang membuat orangtua tidak tahan. Ada saja orangtua yang memilih kekerasan verbal terhadap anak-anak dengan tujuan mendidik, dilandasi oleh maksud yang baik. Mungkin mereka tidak tahu bahwa tak akan pernah ada hasil yang baik jika proses untuk mencapai tujuan itu tidak baik.

Maksud dan tujuan baik hanya akan terwujud baik jika dilakukan dengan cara-cara yang baik pula. Kekerasan fisik maupun verbal, bukanlah cara yang tepat dalam mendidik anak, kata DR. Forward. Ia bahkan menyebut "kejam", jika ada orangtua yang tahu bahwa anak-anak sangat percaya pada ucapannya, tetapi tetap mengucapkan hal-hal yang dapat melukai perasaan anak.

Bagaimanapun, anak juga manusia, punya rasa punya hati. Ucapan-ucapan bernada menghina dan merendahkan itu akan direkam dalam pita memori anak, makin lama makin bertambah dan dirasa berat, sehingga akhirnya anak memiliki citra diri negatif.

Mengganggu Perkembangan Citra diri yang negatif itu di kemudian hari menyebabkan anak tidak mampu tumbuh sebagai pribadi yang percaya diri. Anak akan memiliki rasa malu yang kuat, bersikap ragu-ragu, dan lebih suka menarik diri dari pergaulan.

Seperti yang terjadi pada Rudy di atas. Meskipun sudah bisa membuktikan dirinya sebagai dokter dan dapat menghidupi keluarganya secara baik, ia tetap tidak percaya diri dan menyimpan perasaan malu luar biasa.

Pada anak yang lain, citra diri negatif tersebut bahkan dapat membentuknya tumbuh sebagai pribadi pemberontak, kasar, bodoh, jorok, lamban, pengacau, dan sebagainya.

Pendek kata, anak akan menampilkan diri sesuai dengan julukan yang diberikan kepadanya oleh orangtua. Anak-anak itu sangat percaya pada ucapan yang berkali-kali keluar dari mulut ayah ibu mereka.

Dengan kata lain, jika kita sebagai orangtua mengharapkan anak-anak tumbuh sebagai pribadi yang baik, sehat, cerdas, berbudi luhur tentu kata-kata, sikap, dan perilaku kita pun harus sesuai dengan harapan tersebut.

Jika orangtua menampilkan diri sebaliknya, perkembangan anak-anak pun akan terganggu, tidak sesuai dengan harapan. Tidak mungkin kambing beranak kuda, bukan? Mari kita jaga lidah kita.

Daftar Ucapan Kejam

  1. Memberikan julukan negatif kepada anak misalnya Si Dungu, Si Goblok,Si Lelet, Si Biang Kerok, Si Pemalas, Si Pengacau, Si Penipudan sebagainya.
  2. Mengecilkan arti si anak misalnya orangtua menyebut anak sebagai tak berguna atau percuma dilahirkan
  3. Memberikan kesan bahwa si anak tidak diharapkan misalnya dengan menyebutnya sebagai anak pungut atau diambil dari rumah sakit ataudiambil dari tempat sampah atau menyatakan, "Nggak mungkin anak Papa-Mama," dan sebagainya.
  4. Menganggap anak sebagai sumber kesialan dengan berkata, "menyesal sudah melahirkan."
  5. Melecehkan kemampuan anak seperti, "Ah mana mungkin ia bisa," atau "Sudahlah kamu ngerti apa?" atau "Aku jamin kamu pasti gagal…" Kadang juga lebih halus, "Pengen deh lihat kamu berhasil tapi itu mustahil."

80 Comments Add yours

  1. Malisa Gaara mengatakan:

    betul bgt tuh

    Suka

  2. Siska mengatakan:

    Kalau anak di bilang “anak haram” Dan “salah asuhan” wajar gak sih anak itu sakit hati Dan nekad bunuh diri ?

    Disukai oleh 1 orang

  3. Imas masturoh mengatakan:

    Benar sekali!! Orang tua saya selalu berkata kasar seperti “si jorok” “anak pungut” “anak anjing”
    dan itu terbukti kepada saya yang sekarang, saya memang selalu terlihat percaya diri ketika berada di depan kelas, tapi jauh dari itu teman saya hanya sedikit dan saya mengurung diri di rumah karna saya takut bertemu orang banyak. Saya melampiaskan semua kekecewaan saya terhadap sosmed, saya merasa bahwa sosmed adalah dunia saya, saya memiliki banyak teman, mereka selalu mensupport saya

    Suka

    1. yani mengatakan:

      Untuk Imas. Sabar yah. Saya juga sama. Ibu saya sering marah-marah sama saya. Kadang dia menghina kehidupan rumah tangga saya yg susah. Kadang saya sedih. Kok bisa ibu saya ngomong kayak gitu. Saya tidak sakit hati. Saya tidak dendam. Saya cuma sedih. Saya berpikir mungkin karena hidup saya susah makanya ibu saya selalu menghina saya. Setiap shalat saya selalu nangis. Kapan saya bisa hidup serba berkecukupan supaya saya tidak di hina. Rasa sakit hati itu ga ada duanya saat ibu saya marah-marah di depan orang tidak karuan. Tapi walaupun hati saya sakit saya tetap merawat ibu saya dengan baik. Insya Allah saya akan rawat ibu saya sampai beliau tutup mata. Amin.

      Suka

  4. miss mengatakan:

    Saya berumur 23thn saya sdh bekerja dan blm menikah. Dr kecil sya sering mendapat kekerasan fisik dan verbal dr ayah jika saya tidak menuruti apa yg ayah mau. Sampai saya kuliah sya msh sering mendapat kekerasan hny krna hal sepele. Akhirnya saya memutuskan untuk keluar dari rumah dan cari kost, sya biayai hidup sendiri. Sya takut karena kebiasaan mendapat kekerasan fisik dan verbal dari kecil maka nnti ketika sya mempunyai anak saya akn melakukan hal yg sama dengan anak saya

    Suka

  5. Anonims mengatakan:

    bener juga, saat kecil saya juga sering di bilang “si jorok”,”begok”,”goblok”. sama ayah saya. mungkin itu yang menyebabkan saya seperti ini sekarang.
    saat dengan teman teman sekolah saya terlihat seperti pribadi yang biasa biasa saja. tapi saat tidak di sekolah,saya berbedaa sekali, sering mengurung diri di kamar dan bermain socmed.. sering juga saya merasa tidak di anggap dalam keluarga, mungkin karena faktor perkerjaan keduannya yang sibuk,sehingga mereka hampir “TIDAK PERNAH” menanyakan apa apa tentang saya, malahan jika saya ajak ngobrol mereka jangan tertawa dan ngomong “MASA” sambil muka yang tidak memandang wajah saya. saya binggung apa yang harus saya lakukan.

    Suka

    1. via131197 mengatakan:

      Ya setuju , saya juga sering dibilang “si goblok” “dasar lelet” “dasar males” ataupun yg lainnya sama ibu saya. Sampai sekarang saya menjadi orang yang penakut kalau ngobrol di depan orang banyak , tidak percaya diri dan saya juga sering tidak dianggap sama teman-teman saya. Walaupun begitu , saya diluar rumah selaly bersikap seolah gak ada beban di hidup saya tapi berbeda jika sudah di rumah , saya menjadi orang yg pendiam tidak banyak omong.

      Suka

  6. Dewi Damayanti mengatakan:

    Orangtua saya sering mengatakan kalau saya “anak bodoh,goblok,pekok,otaknya ngga dipakai,anak lelet,pemalas,ngga pinter,anak sial” apa itu akan sangat berdampak untuk saya? Saya masih berusia 16th,saya selalu merasa sendiri,tidak bisa percaya kepada orang,tapi jika diluaran sana saya selalu bersikap tanpa masalah,teman saya banyak,guru” suka sama saya,percaya sama saya,tapi orangtua saya tidak percaya sama saya,guru saya bilang saya pintar dalam pelajaran dll,tapi orangtua saya selalu bilang kalau saya bodoh,orangtua saya selalu membandingkan saya dengan adik saya,adik saya pintar,nurut,orangtua saya juga sering bilang ” jangan jadi orang seperti kakakmu” . Saya lebih nyaman jika berada di dunia maya daripada dunia nyata,saya lebih nyaman diluar keluarga saya,daripada berada didalam keluarga saya,apakah semua itu akan berdampak besar pada saya suatu saat nanti?

    Suka

    1. beritamania mengatakan:

      Secara psikologis tentunya ini akan terus terbawa, namun kamu harus selalu menanamkan keyakinan, jangan sampai kamu berlaku sama dengan apa yang orang lain lakukan kepadamu, kamu butuh orang lain, maka sayangilah mereka…

      Diluar sana, banyak orang yang akan menyayangi kamu, kubur dalam-dalam memori buruk, dan pupuk memori indah bersama orang-orang baru…

      Suka

  7. Patrix mengatakan:

    saya selalu mendapat perlakuan buruk dari ke 2 orang tua saya, perkataan menghina & merendahkan selalu saya dengar setiap hari dari mulut mereka.
    sampai saya berfikir bahwa Tuhan kejam menitipkan saya pada keluarga ini..
    saya berharap ini cepat berlalu & tidak ada kehidupan setelah ini.

    Suka

    1. beritamania mengatakan:

      @Patrix, percayalah, diluar sana masih banyak yang peduli dengan kamu, Tuhan ga sekejam itu dengan memberikan penderitaan seumur hidup kamu, carilah kebahagiaan diluar sana

      Suka

    2. Melissa mengatakan:

      Saya juga merasa Kan Hal seperti Itu kata idiot tolol pengacau bahkan Hidup nyusain Selalu mereka Katakan pada saya , saya kadang ber pikir Mengapa tuhan memberikan saya Di Keluarga ini , jika memang bisa me milih saya lebih me milih tidak Di lahiran drpd Ada d Keluarga yg Selalu menghina saya

      Suka

  8. Willis mengatakan:

    Kekerasan verbal itu lbih menyakitkan daripada fisik,saya sering dibilang saya g sepintar anak orang,gak berguna,cuma bikin malu z,cuma gara2 saya belum menikah diusia q yg ke 24 ini,q tertekan bathin, ;(

    Suka

    1. beritamania mengatakan:

      wow, usia 24 bukanlah usia yang harus cepat-cepat menikah, kecuali perempuan sih, banyak yang beranggapan usia tersebut sudah matang dan siap untuk berumah tangga…πŸ˜€

      semoga cepet nikah lahπŸ˜€

      Suka

  9. siti mengatakan:

    saya juga sering disebut “egois” dengan ibu saya, bahkan teman-teman saya, sehingga lama-lama kata tersebut seperti mendarah daging dan membentuk suatu karakter. sepertinya biarpun saya menunjukkan prestasi bagus, orangtua tidak pernah memuji, seperti tidak peduli, sementara orang lain lebih peduli.

    Suka

    1. beritamania mengatakan:

      terkadang orang tua tidak bisa menunjukkan kebanggaan mereka terhadap buah hatinya secara verbal, namun percayalah mereka tetap peduli terhadap siti

      Suka

  10. nadira mengatakan:

    ini yang saya alami, selain kekerasan verbal, saya pun dikekang, dipermalukan dengan bahasa orangtua yg “manis” didepan orang banyak, kalau saya berontak orang tua memberi sumpah serapah. Saya jadi lebih sensitif , bila tes kerja saya selalu takut gagal, karena bila gagal ibu saya akan menghina bina. semoga kelak saya bila jadi org tua tidak seperti itu.. aamiin. terimakasih artikelnya. sangat bagus. ingin rasanya orangtua membaca dan memahaminya..

    Suka

    1. beritamania mengatakan:

      @nadira, terkadang orang tua memang harus belajar kembali ke masa kecilnya, belajar untuk memahami posisi mereka disaat mereka kecil, namun kerasnya kehidupan dan beratnya beban mereka yang menyebabkan orang tua seakan-akan lupa terhadap masa lalunya.

      Semoga nadira mengambil hikmah dari apa yang nadira alami dan bisa mencoba menghindari memperlakukan buah hati nadira kelak.

      Suka

  11. Septiana mengatakan:

    Ini yang sering aku alami. Dari kecil sampe aku udah berkeluarga, mama aku sering banget ngatain aku “anjing” malah kadang marah2in aku di depan orang. Aku di bedain banget sama adek2 ku, mamaku lebih sayang sama adek2 ku daripada aku. Kadang ntuk deket sama mereka aja aku takut, takut dikucilkan. Aku lebih seneng ngurung diri dikamar sambil berkutat dengan sosmed. Sedih kalo liat mama lebih sayang sama adek aku, sedangkan aku dianggap kaya’ orang lainπŸ˜₯

    Suka

    1. beritamania mengatakan:

      wow… sampe segitunya… semoga kamu ga meniru hal itu untuk anak-anak kamu….πŸ˜€

      Suka

    2. Ocktin mengatakan:

      Saya klo dirumah sering dimarahin sama ibu saya . Dan saya gk tau alasannya apa . Ibu saya slalu membeda”kan saya dengan kakak saya .. saya berfikir apa hanya kakak saya yang disayang sedangan aku tidak .. saya slalu menagis stiap hari , terkadang saya sampe pengen bunuh diri .

      Suka

  12. ABC mengatakan:

    orang tua sy selalu bilang mw buang saya,kdg saya merasa sakit hati pengin lampiasin gak ad siapa2,teriak bisa ganggu tetangga sebelah,sampai saya pernah terbesit mw bunuh diri

    Suka

    1. wingiie mengatakan:

      saya juga sering dibedakan dengan kakak sya dan dikatain dengan omongan yang kejam dari kecil hingga sya sudah menikah bahkan suami sya pun juga dibenci bahkan rumah tangga sya juga dianggap miskin padahal sya sudah punya semuanya
      pernah saya dibilang bahwa sepeda dia lebih berharga dari nyawaku dan ibu selalu membedakan kehidupan kakak saya dan saya dan dia bilang kakakmu seorang pejabat kamu apa hanya kryawan miskin
      sakit hati banget… bahkan saya sering bertengkar dengan ibu saya kalau yang lain lebih senang dengan perayaan hari ibu saya hanya membenci hari ibu

      Suka

  13. Shinta mengatakan:

    Waktu kecil sampai kuliah saya sering dapet perlakuan kasar dan hinaan, waktu kecil kira2 umur 5thn karena saya takut ke dokter gigi saya sampai di ikat dan dibungkam terus dipukulin, sering di hina bego,lelet,anak nemu, dan orang tua saya sering berkata tidak sudi punya anak kayak saya, saya juga pernah dilempar pisau hanya karena saya mau berhenti jadi atlet renang. Saya melakukan salah sekecil apapun bahkan kadang saya ga salah pun sayang sering di pukulin dan di caci maki. Akhirnya saya kabur dan saat saya kabur orang tua saya bilang katanya saya bukan anak mereka lagi. Tapi akhirnya ayah saya suruh saya pulang dan beliau minta maaf tapi ibu saya sampai saat ini dia membenci saya dan dia merasa dia paling benar. Menurut anda apa yang harus saya lakukan?

    Suka

  14. Girl mengatakan:

    Iya jd org tua emang sulit. Tpi lbh sulit lg klau jd anak. Sy ini anak neraka (istilah yg sering dpkai untuk menunjukkan klau kita itu jd martir atau tumbal). Maaf sblmnya, ibu sy emang tidak mengecam pendidikan tinggi. Tpi toh klau sy blang etika dan moral bisa menutupi iq jongkok bnyak yg setuju. dr kecil kekerasan fisik dan verbal justru getol dtg dr ibu. Makhluk yg katanya paling lembut baik hati dan tidk sombong. terlalu hyper parenting pdahal tidak paham soal karakter saya. Saya sering dikatain gendut, lemak dan sgla mcm soal fisik sy yg kurang. Ya, sy tak bgtu menggubris. Yg ada d pkiran saya cmn satu. Balas dendam dan yang penting happy. Saya benci ibu saya. Hinaan yg saya terima mash terus berlangsung smp skrg. Cara saya menghadapinya? Saya mulai berani. Ini dosa? Ya iyalah. Namanya aja ngelawan ortu. Pasti dosa. Apalagi ibu. Tpi pertanyaannya kan yg sbnrnya gni: IBU KYK GMN DLU NIH klau smp didurhakain anak sendiri?

    Suka

    1. rahma mengatakan:

      Sma dengan saya…ibu yg harusnya berhati baik malah terbalik sampai anaknya sakit bgtu dibiarkan..ibu macam apa itu..selalu membanggakan anaknya…memang dosa kalau balas dendam apalagi sama ibu kandung tpi sakit hati sebagai seorang anak tidak bisa ditahan

      Suka

  15. Ama Ambarwati mengatakan:

    bapak saya memang punya karakter tegas. saya percaya beliau sangat sayang kepada saya hanya saja cara beliau menyampaikannya yang salah. dari kecil saya sudah di didik dengan tegas, bahkan terkadang ada kalanya keluar kata-kata kasar yang sangat menyakitkan dari mulut beliau. usia saya sekarang 22 tahun dan beliau sudah tidak pernah bermain fisik seperti memukul saya, melempar atau menendang barang di depan saya, hanya saja karakter beliau yang sering mengucapkan kalimat kasar masih beliau lakukan.
    sebagai anak tentu saja hati saya sangat terluka, bahkan saya seringkali menganggap bahwa saya ini tidak berguna.
    ada kalanya saya sangat ingin pergi dari rumah dan mencoba mandiri, tapi saya bingung harus kemana dan harus bagaimana selanjutnya. akhirnya saya memutuskan untuk tetap bertahan. biar bagaimanapun saya menyayangi kedua orang tua saya, saya menyayangi keluarga saya sampai kapanpun itu. mungkin memang seperti itulah cara bapak saya menyayangi saya.

    Suka

  16. Irma mengatakan:

    benar,saya juga sering disebut bego,tolol atau apapun itu sampai sampai saya tidak di anggap anak lagi..saya selalu berpikir ucapan itu kan do’a!apa pantas orang tua mendo’akan anak nya seperti itu,anak itu kan anugrah dari allah…mengapa orang tua saya sampai segitu nya mendo’akan anaknya seperti itu…

    Suka

    1. alessandra mengatakan:

      Sama kok, saya sangat sayang pada ayah saya, tapi kalau bicara itu benar2 mengiris hati. Saya juga sering diomeli depan umum san kesalahan2 kecil saya dibesar2kan depan umum, sampai kadang kalau ada orang random, misal saya berbuat kesalahan karena tidak tahu prosedur salah satu kegiatan di teller bank, saya akan dihina-hina depan teller dan kejelekan saya diumbar2 dan saya langsung dibilang anak yang tidak nurut sama orang tua, padahal saya tiap di nasihati saya diam saja tidak berani melawan. saya juga sering dibilang bego dan lelet, tidak peka, padahal hanya urusan menyalakan lampu teras. lalu kalau ada kesalahan, anak-anaknya yg dilimpahkan, pokoknya anak2 tidak ada benarnya. kakak saya sampai jadi berani membentak orangtua, tapi yg ada kakak saya malah dimanja, sementara saya yg lebih memilih untuk diam malah dikasari, dan dicaci maki depan umum. Tapi diingat kebaikannya saja, kalau tidak didoakan dan dibiayai, saya jadi lebih terpuruk dari sekarang yg hanya diserang dengan hal2 verbal. sekarang usia saya 22 tahun, dan yah sudahlah, ingat kebaikan orang tua saja, orang tua juga manusia kok. kalau mereka tiada juga saya tetap sedih. Ayah, ibu, sehat-sehat ya.. kalau saya sudah mampu saya ganti semua biaya kuliah saya yg sempat bikin keluarga cekcok dahulu kala..

      Suka

  17. aini mengatakan:

    Aku aini
    Aku lahir dari keluarga yang biasa saja.
    Aku punya orang tua mereka gapernah akur,tapi ayah aku sangat sabar dengan kelakuan mamaku,kadang membuat ayahku gakuat sama sikapnya.
    Pula aku,hidup yang gapernah akur dari kecil,aku selalu dijelek jelekan didepan umum.dipukul,sampe aku pernah sakit karna lebam pukulan mamaku dengan barang.
    Aku hampir gapernah dapet kasih sayang dari mama,entah kenapa.mama bilang sejahat jahatnya mama itu tujuanya baik.tapi caranya salah.
    Akukecewa sama mama apalagi sama perkataan mama , mama bilang aku durhaka,anak anjing,anak monyet,anak bajigan,sana jadi jablay.
    Akuemang suka ngelawan,karna aku gasuka disebut kaya gitu,dibanding sama anak lain. Apa ini termasuk mama yang kejam?

    Suka

  18. prika isukma.d mengatakan:

    iya benar saya juga begitu.. saya tinggal bersama ibu bpk saya.. ibu saya mendidik saya terlalu kejam.. saya di bully.. di bilang anak haram.. anak anjing. anak tak tau diri.. anak kampang.. trus ibu saya slalu bilang dia tida iklas memberi saya makan.. dia selalu mengungkit apa yg dia berikan.. sampai saat ini saya merasakannya. sampai saya tak punya tmn.. hnya di skolah.. itu pun hanya 1 orang.. yang lain nya ada tapi saya tak telalu dekat.. krn saya takut dengan omongan orang.. krna saya mudah skit hati.. jika ada yg menghina saya.. saya selalu menangisi dengan kekurangan saya.. saya tidak tau harus gimna lagi.. saya terkenal pendiam di sekolah krna saya menilai org dri diam.. seperti ibu saya.. saya tdk bsa berbicara sbelum saya benar benar lelah dengan kata kata kasarnya.. 5tahun berlalu saya menahan nya.. bnyk org berpikir anak pendiamlbh berbahaya dri pd anak riang.. saya tipe pedendam.. smpai saat ini saya tetap berusaha sbr dgn omongan ibu saya smpai saya tamat sekolah dan di situlah puncak dimna saya ungkapkan apa y saya rasakn slma 5tahun

    Suka

  19. syhr mengatakan:

    Bukannya saya ingin mendzalimi orang tua saya. Tetapi kekerasan verbal sudah pernah saya rasakan dari kecil oleh kedua orang tua saya. Bahkan sampai sekarang mungkin mereka selalu menghina saya. Karena prestasi saya dan sikap saya kurang baik menurut mereka. Seringkali saya diberi nasehat dengan kata kata kasar yang sulit saya pahami di waktu itu. Makanya sampai skrg saya tdk pernah ingat nasehat apa saja yg mereka berikan kepada saya. Yang saya fikirkan hanyalah mengapa mereka tega mengucapkan kata kata itu kpd anaknya sendiri.

    Suka

  20. misa mengatakan:

    keluarga saya juga keadaannya seperti itu. orangtua yg selalu bertengkar setiap hari. dari ibu saya yg selalu mengatakan kata2 jorok dan selalu mengejek saya, dengan sebutan anak anjing, anak setan, goblok, tolong, bego dan kata2 jorok seperti pelacur dll. dari kecil saya selalu dipukuli ketika melakukan sedikit kesalahan. ibu saya juga selalu mengejek2 saya didepan tetangga. dan ayah saya juga sukanya sehabis bertengkar dengan ibu saya langsung pergi entah kemana. dan akhirnya yg menjadi pelampiasan ibu itu saya. tak jarang pula misal saya melakukan kesalahan sedikit ayah saya langsung mengejek dengan nada bergurau. tapi yg saya tangkap itu bukan gurauan melainkan ejekan. seperti “haah gitu aja gak bisa, gimana nanti mau kerja, mau ngkos ato hidup sendiri” seakan saya gabisa melakukan apa2 dengan benar. dan sebutan goblok selalu keluar dari mulut ayah saya ketika marah dan tidak jarang juga memukul. saya tabrakan juga bukannya khawatir keadaan saya malah tambah dimarahin dengan nada tinggi dan dipukuli habis2an. padahal saya termasuk siswi yg berprestasi. sewaktu sd saya sering mengikuti lomba dan mendapat juara. dikelas juga tak kalah pintar dan selalu rangking. tapi semakin kesini nilai ku turun dan itu semua karna ortu saya yg selalu mengejek saya seakan anak tak bisa apa2. saya mempunyai teman banyak dan mereka mengira saya anda yg ceria karna selalu ditutupi oleh sikap riang saya yg disengaja, tapi saya gak begitu dekat dengan mereka. saya hanya punya satu teman dekat. semakin kesini saya jadi orang yg pemurung, pendiam dan kadang iri hati dan selalu negatif thinking kepada orang lain. saya ingin membuang sikap itu tapi tidak bisa, seakan sudah mendarah daging karna perlakuan ortu saya dari kecil. saya tidak tau harus bagaimana, saya selalu mendoakan ortu saya. tapi entah kenapa terkadang saya merasa stres menghadapi ortu saya sendiri. saya bingung harus bagaimana..

    Suka

  21. sanny mengatakan:

    Settuju,saya juga selalu dibilang tak berguna dan hanya jadi beban dihidupnya bahkan mereka tak pernah percaya klo aku mampu disetiap yg sya kerjakan..setiapp sy bicara baik2 pasti di anggap remeh sama mereka krn saya kecil dan mereka orgtua,lalu harus bgmna?

    Suka

  22. Anak Menjerit mengatakan:

    Kalau kita berbicara kepada generasi selanjutnya, berbicaralah dan berbuat yang baik. Saya memiliki contoh, Ada sebuah keluarga dimana bapak suka memaki dan ibu suka menghina dan bertindak tidak adil. Hasil pendidikannya : 20 tahun kemudian si Anak sakit jiwa, tidak dapat berkonsentrasi, dan hidup sangat pas-pasan. Keluarga yang lain dengan tipikal yang sama : Anak-anaknya telah berumur 30 tahun keatas sekarang, tetapi : SAKIT JIWA, dan salah satunya dirawat di RSJ, dan yang lainnya tidak mau bertemu ibunya, serta membenci bapak ibunya, dan kesulitan ekonomi serta tidak menikah padahal ganteng.

    Suka

  23. Keluarga saya sering memarahi saya jika melakuka kesalahan
    Pernah suatu hari aku melakukan kesalahan sekolah pulang telat karena pulang sekolah langsung mencucikan montor
    Saya sadar saya salah seharusnya kalau saya salah saya ingin orang tua saya tdk nemarahi saya dengan mengeluarkan kata” yang menyakiti hati saya, sampai saya berfikir dan mempunyai perasaan untuk membenci orang tua saya

    Apakah seharusnya orang tua memarahi anaknya sampai keterlaluan begitu ?

    Suka

  24. Anonim mengatakan:

    Saya gadis berumur 19 thn. Dr kecil selalu dapet kekerasan verbal dr ibu saya. Semenjak ayah ketauan punya istri 2 saya selalu jadi bahan marah ibu saya. Selalu dipukul,dihina dan dibanding2an. Pernah sy ajak dia kepsikolog tp dia selalu menolak dan bilang”emg gue gila” sdh gue jelas kan ke psikolog bukan org2 gila aja tp org yg punya masalah berat yg sulit cari jalan keluar. Tp dia tetap nolak. Tiap hari pasti ada gesekan yg bikin kami ribut sdh tak terhingga sumpah2 yg diberikan untuk saya. Mendoakan sy cepet mati. Menyuruh sy bunuh diri sampai dia bilang grgr saya ibunya jual warung buat biaya melahirkan sy dulu sekarang jadi blangsak seumur hidup.masyaAllah semoga ada hidayah buat ibu saya.. Amiin

    Suka

    1. beritamania mengatakan:

      Bisakah kamu menjadi psikolog untuk Ibu kamu sendiri? siapa tahu ibu kamu akan lebih terbuka dan bisa mengeluarkan semua unek-uneknya. Jangan sakit hati ketika Ibu curhat, carilah jalan keluarnya.

      Suka

  25. terserah mengatakan:

    Hmm ini artikel lama tapi lumayan lah udh saya baca. Saya bosan di omlin mulu saya capek dengarnya saya takutnya saya ngelawan malah durhaka. Yang di bilang cita2 di mulut ajalah dlll. Mereka gak tau saya ini serius ingin ngejar cita2 saya buktinya saya mencoba main volly agar fisik saya bagus, jogging, dll dan apa hasilnya sama aja dihina! Sumpah rasanya saya pengen lari gitu dari rumah terus ke gunung buat teriak setan!!!!!!!!! Peringkat juga udh naik masih aja di bilang goblok! Padahala nilai saya ga ada yang di bawah 7 7 ke atas semua! Pengen rasanya cpet2 kuliah, biar jauh dari orang tua bosan njing denger omelan yg gak ada benarnya. Sekarang gue di omelin gara2 gak percaya diri dan dapat cewek yang menurut keluarga hina gue jelek padahal mah kagak, cewek gue sholat 5 waktu coy, dia bantu gue berubah, dia yang mau nerima cowok garing dan pendiam kayak gue, fucklah shit to all!!!!!!!!!

    Suka

    1. beritamania mengatakan:

      Terkadang, tidak peduli dengan sekeliling bisa sedikit membantu merefresh kekesalan kita.

      Suka

  26. aj mengatakan:

    G

    Suka

    1. depresi mengatakan:

      Berat banget, please help me…!!!

      Suka

      1. beritamania mengatakan:

        Apanya yang berat bro?πŸ˜€

        Suka

  27. Dhea mengatakan:

    Usia saya 29 th. dari kecil saya sering dimarahi ibu dan dikasari. sampai sy mjd org yg kurang percaya diri dan tidak berani menghadapi orang banyak. sy sering mendapat perlakuan tidak senonoh selama di sekolah maupun di angkutan umum. tp sy tdk berani curhat ke ibu sy karena takut dimarahi. Saat ini sy sudah menikah. Ibu saya smp sekarang msh sering mengatur kehidupan saya. sering sms yg isinya mengatai saya yg kasar2. selalu mengungkit2 apa yg telah diberikan selama ini. org tua ibuku juga dijauhi oleh anak2nya meskipun sudah tua renta dan sakit2an karna kakek nenek sy sering marah2 dan berkata kasar trhadap anak-anaknya. dan kebiasaan buruk itu menurun pd ibuku. tp sy takut klo sampai nnti ak dan adik2ku jg menjauhi ibuku karna sering marah dan berkata kasar.
    banyak sekali dampak negatif dari perlikau orang tua yg spt ini tp saya harus bagaimana?

    Suka

    1. beritamania mengatakan:

      Sekejam apapun orang tua kita, merek tetaplah orang yang sudah melahirkan dan membesarkan kita hingga saat ini, jangan balas dendam dengan mereka, karena hanya akan memunculkan karma pada diri kita kelak. Bisa terlihat dari kondisi kakek/nenek dan orang tua Dhea kan?

      semoga dengan berbaik hati dan juga berbakti, kelak anak keturunan kita ga perlu merasakan apa yang Dhea saat ini rasakan, dan Dhea bisa merasakan bakti dan hormat anak cucu kelak. Ok?πŸ˜€

      Suka

  28. aryani mengatakan:

    Saya sering mendapatkan lontaran kata kata kasar dari ibu saya, dibilang tdk bergunalah, dan bahkan dia sering melontarkan kata kata yg tak pantas, spt a****g ,ba*i setan lah.. Dan dia juga tak hanya mengata ngatai saya, tetapi juga memukul saya,menjambak, dan kekerasan fisik lainnya. sehingga saya seperti musuh dirumah sendiri, saya seperti dianak tirikan dan tak diharapkan kehadirannya. Dan hal ini sering membuat saya merasa rendah,minder,dan tak percaya diri

    Suka

    1. beritamania mengatakan:

      Cari tahu hal-hal apa saja yang membuat orangtua kamu marah, usahakan hindari itu. Lalu selalu berdoalah kepada Tuhan tiap kali beribadah, siapa tahu Dia bisa memberikan hidayah dan kesadaran atas keselahannya selama ini.

      Hanya usaha dan doa yang mampu mengubah segalanya. Tetaplah tegar dan berbakti kepada mereka. Tuhan akan selalu bersama dengan orang yang teraniaya

      Suka

  29. D-Trix mengatakan:

    Semua yg ditulis TS benar sekali, saya jadi pribadi yg sangat pendiam sehingga saya dijuluki “Semar”(besar&pendiam) di organisasi saya dan saya terima itu. Namun sya berusaha menutup diri(dgn percaya diri atau dgn “fake smile” yg lebar agar orang lain percaya sya tdk ada masalah) dari masalah dgn ayah saya yg kasar dgn anak”nya. karena saya memaklumi kalau beliau keturunan “madura” yg super keras lingkungannya sedangkan saya hidup di lingkungan yg ramah.. Entah mungkin saya hnya bisa berserah diri kpd YME. Btw, sya orangnya gk bisa marah sekalipun, sya suka memberi nasehat daripada memarahi seseorang, tapi beliau tidak. Sprtinya anak buah dan anak kandung sendiri dianggap sama 😦

    Suka

    1. D1CKHe4D mengatakan:

      Kalo saya orangnya bisa meledak amarahnya kalau sampe kyk gitu..hehe lngsng pergi dr rumah aslina

      Suka

  30. Sapa ya mengatakan:

    Benar sekali ,terkadang orang tua membuat saya jengkel saya paling sakit hati saat saya meminta uang spp bulanan .. saat itu ayah saya berkata bayar byar aj udh berhenti sekola aja
    Saya merasa sangat sakit hati . Sdh kewajiban org tua membiayai ankny sekola.. lalu jika memang beliau tidak ingin membiayai saya . Lalu untuk apa ia membuat da melahirkanku?

    Suka

  31. CINDY mengatakan:

    Ibu q sudah bercerai dengan ayah q beberapa tahun lalu,dan kini ia sudah menikah lagi,tapi semua berubah ia bukan ibu q yg dulu lagi,kini ia lebih sering membela suami barunya dari pada q dan sering berkata kasar pada q contohnya MATAMU kalau dalam bahasa Jawa itu adalahsalah satu kata yang sangat kasar yg seharusnya tidak pantas dikatakan pada anak anak

    Suka

  32. Mungkin mengatakan:

    Orangtua saya keras, saya sama sekali gak dibolehin pergi. Kadang saya harus berbohong supaya bisa keluar bersama teman”. Dari kecil saya sering diomelin sama mama sering dipukul sampe sekarang udah kuliah masih ttep gitu sering dikasi kata” kasar. Saya sakit hati tapi saya ttep sabar supaya nnti saya menikah saya tidak memperlakukan anak saya seperti itu. Kadang saya berpikir kalau saya gak berguna, merasa menyesal lahir ke dunia. Ini itu serba dilarang.kerja saya gak dikasi harus bantuin jualan dirumah katanya tapi kalau saya minta uang beli buku susah sekali sering juga mama mengungkit ngungkit apa yg udah dikasi.

    Suka

  33. AndroidMaster mengatakan:

    Semua yang di artikel ini kok sma smua ya sm yg sya alamin, sy sendiri jg gk nyangka kalau orang tua sya sendiri begitu ,saat ini cuma ada 1 hal yg ada di benak pikiran saya suatu saat nanti (gw beli mulut lo beserta liur yg kau ucapakan padaku) maaf kalau kasar karena thats the real reailty of my life everyday, every special moment and all of my heart was broken because ur ego. Gw emg broken home tapi bukan berarti gw gk bisa menaklukan ego.

    Suka

    1. irnawanzee mengatakan:

      Iyah smuanyah sama sama kayak hidup saya dari kecil sampe skarang usia 19th . Sedih rasanyah . Pngen bnget kaya orang lain pnya mmah baik trus bergaul juga gampang .

      Suka

  34. irna wanzee mengatakan:

    Cerita ku dari kecil ..
    Dari dalam kandungan aku dah gak diinginkan sama ke2 orng tua ku mamah sama ayah .. sampe mmah nekat dulu minum obat2an buat gugurin aku , trus pas aku di lahirkan ayah gak ada buat aku ayah gak pernah nyentuh aku .. waktu aku kecil . Malah orang lain yang kasihan sama aku .. dulu waktu kecil aku pernah mau di masukin ke dalam sumur sama mamah waktu umurku 8th . Truus mau di bunuh pake golok waktu aku 9th tpi ada kka aku yg bilang jangan dan dia nnagis .. setiap aku di marahin sama mmah mamah selalu bilang . Nyesel aku lahirkan kamu . Gak sekalian ajah dulu aku bunuh kamu , atau kasih kamu ke orang lain .. dulu sempet mau dikasih ke orang lain tpi aku gak mau . Mamah selalu nawarin aku ke orang2 .. aku sampe skarang kalo dimarahin slalu pake fisik . Entah ituh di tendang di takol di lempar sepatu bantal dan sbg. Bahasa yg keluar juga sia , anjing, anak kambing , jelek , jorok , kesan nya aku kayak anak tiri .. sampe skarang sampe tadi pun aku dimarahin . Depan umum . Jelek2in aku ke cwo2 aku ke terangga ke orang2 .. maknya aku jadi anak yang cenderung . Diam di rumah gak kemana2 , dikamar gak percaya diri . Bergaul pun aku ragu2 . Aku gak percaya diri .. sampe setiap orang yg deketin aku aku jauhin karna aku gak merasa pantas buat dia . Aku slalu bertanya .. ya allah siapa yg dosa aku apa mamah ki .. aku slalu meminta pada allah supaya aku segera di cabut nyawanyah dari dunia ini .. mamah slalu bikin aku sakit hatii sampe ngebatin banget ketika mmh bilang . Knpah gak mati ajah kamu dari lahir , anak tak berguna. Menyusahkan . Jelek goblog anjinkk .. aku disini gak ada temen aku expresiku aku curahkan di sosmed memng sosmed kaya dunia ku dan kamar kayak ibuku yank yank bisa teduh dan nyaman sampe nangiss ngebatin pun . Skarang umurku 19 aku slalu masih dimarahin mlhan sering banget . Sampe aku pngen bunuh diri dan akhiri hidup ini ..

    Suka

  35. Dian mengatakan:

    Ya… orangtua,kita gak bisa lari terus berada dilingkaran mereka terus untuk mereka hina, direndahkan, caci, bully… sampai kapanpun. Itu orangtuaku… kadang kalo aku gak ada dia cari2, pulang dimarah.. karna kalo dia marah kalo gak ada aku.. gak asik. Itu bapak.ku..sama mamak.ku pun sama mulutnya. Suka menghina, merendahkan. Mau makan pun kadang dihina.. tau rasanya sedang makan dihina, direndahkan, boro2 mau doian anak. Kata2 yg keluar selalu nada sindiran. Dan s3lalu membandingkan dengan anak2 temannya atau kenalannya..mau.nya punya anak seperti itu… yaaa.. sama ak juga kalo bisa milih gak mau orang tua seperti kalian… kalimat bodoh yg diucapnya,..
    Lebih suka ke saudaraku yg hidupnya kaya… Tp ak sadar ini hidup. Kt di uji dari lahir… pengalaman kt semoga kt tidak seperti mereka, untuk anak kt nanti.. Allah maha tau, semoga ne bs jadi amalan kesabaran dalam hidup dibalas surga oleh Allah.. solusinya ak harus sabar, dan selalu ak bawa heppy.. buat ak mereka anggap saja pelawak yg gak asik.. tapi ingat teman2 tetap doakan mereka orangtua kita jgan dibalas sumpah serapah juga.. itu hal kecil yg sangat berarti. Nanti di akhirat mereka akan menangis mendengar doa orang yg dihinanya…

    Suka

  36. 4n0nym0u5 mengatakan:

    Sy msh 13 th gk sengaja baca ini..mau curhat sedikit aja..ibuku suka ngehina nghina sm bilang saya anak anjing. Goblok lah apalah…trus ujian dapet 80 aja di gampar make sepatu hak yg bahannya kayu..sampe sekarang msh ada bekasnya.. Kalau “complaint” dimarahin “knapa gak pergi aja dari rumah. Buat apa punya anak yg nyusahin” anjir asa keheul urg na ge soalnya ibu ku juga temperamen main ps baru sebentar di marahin katanya ntar bodo..belajar juga dimarahin katanya bohongan..jdi harus gimana da adik ku aja yg di manjain.. Dapet nilai 70 dapet hp.. Sy dpt nilain 80 di gmpr.kan sakitnya k batin gitu..oiat temen di sebelah rumah dibaikin orang tuanya sa kesel gituh da yh masa sy nggak gitu..jd males keluar rumah..kalau bapak saya baik. Malah dibeliin laptop .eh abis tuh laptopnya disita sama ibu cmn gra gra main pb doank..ANJINk

    Suka

    1. 4n0nym0u5 mengatakan:

      Sampe sampe dimarahin sm ibuku didepan banyak orang suruh teriak “aku orang paling bodoh disini..cmn gra gra nilai mtk 78.padahalkan ibu bpk ku dokter.buka klinik dirumah. Itu ekt lg banyak pasien

      Suka

  37. Muhammad Zakaria mengatakan:

    Saya selalu mendapatkan komentar buruk dari Ibu dan ayah sialan saya, mereka mengatakan saya Bodoh,lelet,dan mengganggap remeh diri saya dan saya berharap mereka sadar. Dan jujur saya sekarang menjadi anak yang berani melawan kepada kedua orang tua saya karena sejak saya kecil mereka mengurung saya di kamar mandi, mencubit saya sampai berdarah, memukul saya dengan gesper sampai berdarah. Saya dikurung berjam jam hingga saya menangis dan pingsan. Dan sekarang di umur saya yg sudah 14 tahun ini saya sadar dan saya baru mengetahui kalo mereka itu asal ceplas ceplos dan ketika saya sudah mulai mengenal segalanya. Saya merasa kesal dan saya menganggap kalo saya tidak bisa tinggal diam. Setiap hari saya panggil ibu saya dengan sebutan Bodoh,goblok,dongok,tolol dan saya juga tidak pernah salim dan pamit kepada ortu saya ketika saya pulang dari sekolah dan membantah perintah mereka, serta JIJIK mendekati ayah saya seperti kuman mematikan!!!!! Dan mereka sakit hati. Dan itu memang pantas atas pembalasan ini. Jika yang saya lakukan benar tolong berikan komentar mudah2an saya mendapatkan Hidayan*amin*:l

    Suka

  38. ANONIM mengatakan:

    Saya bukan anak yang hidup dalam keluarga ‘sekejam’ itu tapi sayang, saya adalah anak yang sangat sangat gampang baperan. Mungkin saya salah, tapi apa memang kemarahan harus di luapkan dengan hinaan? Saya berbadan gemuk, jujur. Saya mungkin memang tidak seaktif saudara saudara (sepupu) saya. Dari kecil, orang tua saya memang jarang menyuruh saya. Akibatnya, semakin dewasa sikap itu juga masih terbawa di diri saya. Saya tidak bisa melakukan sesuatu (bersih-bersih/bantu) jika ada yang melihat. Alasannya sesimpel ini, hanya karena saya tidak ingin di anggap salah. Tiap kali saya menunggu ibu saya berangkat kerja, saya hanya tiduran, karena saya ingin membereskan rumah ketika beliau pergi. Tapi, yang terjadi justru beliau menasehati saya. Dan entah kenapa, dalam setiap nasehatnya selalu terselip kata-kata “gemuk, lemu, gowor-gowor” yang selalu membuat saya sakit hati. Entah, kenapa saya selalu baperan jika di sebut seperti itu. Hal itu tak terjadi hanya sekarang saja (umur saya 20), tetapi juga sudah terjadi pada masa-masa sebelumnya. Sejak saya remaja. Saya tumbuh menjadi pribadi yang malu, minder dan takut jika berkumpul dengan orang, mereka hanya akan menghina dan mengejek saya. Bahkan, sekalipun hinaan dan ejekan mereka adalah BENAR. Entah kenapa, rasanya begitu menyakitkan. Saya bukan tipe orang yang tidak bisa memaafkan. Saya adalah tipe orang yang sangat mudah memaafkan tapi tidak untuk melupakan. Saya selalu ‘it’s no problrm’ jika di ejek seperti itu di depan orang, tapi sejujurnya sampai detik 1000 tahun ke depanpun saya akan mengingatnya. Saya yang gemuk, lemu, gowor-gowor, gak bisa apa-apa. Ibu saya tidak pernah mengatakan, “kamu cantik”, tapi dia selalu mengatakan, “kamu cantik, tapi sayang gembrot, lemu, gowor-gowor, gak isok njogo awak”. Ah, entahlah, apa aku salah jika hati tersakiti hanya karna omongan seperti itu? Mungkin, maksut ibu adalah untuk menyemangatiku agar aku berubah tapi apakah salah jika yang terjadi aku malah merasa hidup dalam hinaan? Aku hanya takut, jika aku akan menumbuhkan sikap yang sama kelak saat mendidik anak. Aku tidak ingin anakku menjadi seperti aku. Yang tanpa sadar, hidup dalam hinaan yang meski sebenarnya hinaan dan ejekan itu adalah kebenaran.

    Suka

  39. Darul mengatakan:

    iya namanya juga orang tua merasa paling benar tidak pernah mendengar kan suara hati anak. apalagi harus selalu mengajarkan anak untuk harus mengikuti prinsip orang tua. ini lah yang membuat anak tidak punya prinsip, tidak bisa hidup mandiri, dan menentukan nasibnya sendiri. padahal dirinya sendiri yang akan menjalani hidupnya. sebagai orang tua harusnya meridhoi setiap urusan, harapan, dan tujuan sang anak. tapi kita juga sebagai anak harus tau diri jangan sampai gelap mata dengan orang tua. tanpa mereka juga kita tidak bisa hadir di dunia ini. semua bisa terasa indah bila kita musyawarahkan dengan baik bukanya dengan emosi sesaat. kita sudah dewasa iya harus berpikir dewasa.

    Suka

  40. Levierna mengatakan:

    Saya dari kecil sampe sekarang umur hampir 24 masih ngalamin hal demikian. Kalo skrg sih sudah berkurang , dulu parah sekali, yg ga akan pernah saya lupa yaitu dulu waktu saya masih smp kalo saya pakai pakaian yg ga sesuai dengan pilihan ibu saya, saya selalu di katain perek. Bayangkan, usia saya baru 14tahun kala itu tapi sudah dikata katain perek hnya gara2 baju yg ga sesuai keinginan dia padahal baju saya biasa aja, ga terbuka2, ga ketat2, saya ga bandel ga pacaran dan selalu pulang tepat waktu tapi sering sekali dikatain perek. Waktu saya duduk di bangku sma saya ga diberi kebebasan sama sekali untuk hidup selayaknya remaja2 lain. Kalau pulang telat sedikit saya akan dimarah2in, di pukul oleh ibu saya. Pernah saya ajak main pacar saya waktu itu ke rumah , tapi waktu saya tinggal ke belakang , ibu saya nyamperin dia dan bilang ke pacar saya kalo sebaiknya kita udahan saja dan berteman aja, gatau maksudnya apa. Pokoknya pergaulan saya dibatasi banget, sampe ga boleh kenal cowok. Alhasil ketika sudah dewasa seperti ini saya jadi pribadi yang pendendam dan penuh kebencian. Semua karena masa lalu saya dgn orangtua saya yg kurang baik

    Suka

  41. aziwalang29 mengatakan:

    Sering dikata ga berguna, ga punya kemampuan apa apa, di anggap orang idiot yg hanya bisa menyusahkan orang tua, itu simplenya

    Suka

  42. Uus mengatakan:

    Dari kecil saya dikata katain gak becus, iq jongkok, bodoh, dll. Dan sampe kelas 1 SMP saya sangat pendiam sampai guru BK curiga kalau saya ada masalah besar.

    sampai akhirnya saya gak kuat kelas 2 SMP, saat ibu saya datang memarahi saya, mengatakan ‘Bodoh!’, ‘Gak Nurut!’, saya balik bentak saya keluarkan semuanya disitu, nada saya jauh lebih tinggi dari dia, saya sgt berapi-api. Dia berargumen, saya balas Argumen saya sampai akhirnya Bapak datang bawa sapu lidi lalu dipukulkan ke muka saya. Saya diusir.

    Seminggu lebih saya luntang luntung di rumah teman, gak ada keinginan untuk pulang sampai akhirnya saya tau Bapak saya mencarihcari saya kerumah rumah tetangga. Saya tau hal itu dan sebisa mungkin saya menghindari dia supaya gak bertemu.

    Singkatnya, dia minta maaf dan gak akan memgulang lagi perbuatannya, dan apa? setelah satu bulan mereka kembali ke watak asli mereka, menghina anak mereka didepan bamyak orang, membanding-bandingkan dg anak lain. saya diam sampai kelas 1 SMK.

    Sampai saya gak kuat lagi, saya banting pintu, saya marahi balik mereka semua.

    ya jadilah saya skrg, Orang yg sangat amat pendendam, pendiam, dan gak bisa tahan amarah saya.

    Suka

  43. Hidup memang keras mengatakan:

    Saya umur 20, saya selalu dikekang, harus sekolah disinilah, harus kuliah disinilah, hrs jadi guru lah, tapi aku kan punya cita2 sendiri. Aku dan ibuku gak pernah sehati, sampe Dia bilang aku anak durhaka, gak bersyukur, calon neraka, gak nurut, pembangkang, padhal aku hanya mengutarakan pendapat saja. apa salah? Dan ktka aku tidak cepat bersih2 rumah ibuku suka menghina saya, sampai teriak2 keluar rmh, dia bilang aku kayak nenek-nenek makanya lelet, muka sepa kayak orang gak perawan. Gak berguna, pemalas, padhl aku yg bersih2 rumah, malah adiku kerjaan nya main hp terus didiemin aja. Aku jg Sering dibanding2kan dgn anak tetangga. Jadinya aku pribadi yg agak pemalu, dia bilang kalo semua orang pasti membenci aku. kalo mereka ga suka aku, ya aku gak akan pernah peduli, cuek aja. nanti aku gak mau tinggal disinil lg, mau cari kerja yg jauh dr kampung halmnku, dan semoga aku gak akan jadi ortu yg suka ngomog kasar kyk ibuku.

    Suka

  44. cindy mengatakan:

    Saya cewek yang memiliki plus size, saya sadar diri.
    Tapi sangat menyedihkan saat orang tua kita bilang kita gendut didepan orang orang.
    Orang tua saya selalu menuntut saya untuk menurunkan berat badan saya, saya sudah berolahraga diet minum obat pelangsing tapi tetap begini saja, dan mereka selalu berpikir bahwa saya tidak pernah berolahraga.
    Saya jadi merasa tidak nyaman untuk tinggal dirumah, karena setiap saya senang sedikit pasti mereka selalu membuat saya down dan minder dengan mengeluarkan kata kata yang membuat saya sakit hati.

    Suka

    1. Rahandika Prawiro mengatakan:

      kejadian serupa sama saya~ saya juga gendut dari kecil hingga 5 bulan lalu saya menemukan diet yg tepat untuk tubuh saya…
      sekarang saya sudah jd kurus dari bb 110kg ke 72kg, tp yg ada malah komentar baru seperti kurang gizi lah, ga pantes dsb
      bahkan saya yg sudah rajin berolahraga sampai ngoleksi medal finisher di event lari pun tetap dapat cap malas dari mereka, bahkan sampai saat ini saya jd menghindari orang tua saya bahkan ketika makan sekalipun lebih baik makan sendiri ketimbang makan bareng keluarga, rasanya ga enak ketika sedang makan diberikan kata-kata yg membuat sakit hati

      Suka

  45. Eka Margianing mengatakan:

    Saya sudah terbiasa dengan kata-kata yang tidak menyenangkan, bahkan sampai saya dewasa. Saya tau ayah saya mengatakan seperti itu karna ada sebabnya. Tapi saya rasa harusnya tidak sampai mengatakan kata-kata seperti itu. Saat saya dewasa saya pun kerap nendapatkan kata-kata yang kurang pantas, sampai rasanya hati saya terlalu sakit dg kata-kata ayah. Bukan hanya itu, dari kecil saya juga sering mendapatkan kekerasan fisik sampai umur saya 17th. Jika saya tumbuh sebagai anak yang keras, semua itu karna didikan dari ayah saya.
    Saya harap ayah saya tau perasaan saya. Ayah saya orang berpendidikan, harusnya beliau lebih tau yang terbaik buat anaknya.

    Suka

  46. Ellisa Zhang mengatakan:

    Orang tua gue dari dulu sering nyebut gue “Anak pungut!” “Tak berguna kau!” “Nyesal udah pungut kau!” “Bodoh kau!” Dll
    Saya benci orangtua saya!!

    Suka

  47. Muhamad dwy mengatakan:

    Saya sering dibilang gembel anak pungut dari tong sampah anak haram sama ibu saya yang paling menyakitkan bagi saya kalau dibandingkan oleh kakak dan adik adik saya walaupun begitu teman teman saya selalu mendukung saya mungkin bisa dibilang sekarang saya menjadi orang tidak percaya diri saya mempercayai kalau sahabat adalah keluarga saya.

    Suka

  48. Syafiuddin mengatakan:

    Menurut saya orang tua yang berperilaku seperti orang tua Rudy tidak banyak.Tapi, kalau misalnya ada, sebagai anak sebaiknya mengembalikan apa yang telah terjadi, sebagai takdir atau ketentuan Allah. Kita harus ridha atas apapun ketentuan Allah. Harus bersabar dan berusaha sungguh2 untuk memperbaiki diri,

    Suka

  49. daraschneider mengatakan:

    sy wanita berusia 21 thn. sy sering dicaci maki oleh ibu sy dan ujung2nya ayah sy juga akan mencaci sy. berbagai bahasa dan sumpah2an sering diucapkan hingga terkdg membuat sy menangis secara diam2 krn sakit hati. puncak sy sakit hati saat beliau mengatakan menyesal melahirkan anak seperti sy. seakan2 kehadiran sy di dunia ini adalah kesalahan terbesar yg pernah dia buat. sy tidak berani mengungkapkan isi hati sy, krn jika sy berkata sy akan semakin dimarah2in dan semua yg sy perbuat selalu slh dimata beliau. sy jadi org yg tidak berani mengungkapkan pendapat, sensitif & penakut. beliau juga mengatakan bahwa sy seharusnya ke psikiater krn menurutnya diri sy bermasalah. tapi sejujurnya, yg sy butuhkan adalah kesempatan untuk mengatakan apa yg sy pendam selama bertahun2 ini

    Suka

  50. Pembenci ibu mengatakan:

    Saya seorang dokter usia 29 thn blm mnikah.
    Dari kecil saya anak yg baik penurut dan berprestasi di sekolah hingga kuliah.
    Sejak kecil hingga sekarang jika sy melakukan sedikit kesalahan ibu saya akan melakukan kekerasan verbal dan fisik yg sgt menyakitkan hati saya dan tdk bisa sy lupakan.
    Ibu sy skrg usia 65 tahun.
    Saya benci dengan ibu sy yg selalu nyumpahin saya “anak yg tdk berguna dan anak durhaka..kelak akan punya anak durhaka dan tdk ada seorang pun laki2 yg mau sama saya, dan tdk akan ada yg mau berobat pd saya karna mnurutnya saya dokter yg gagal dan jelek”.
    Karna sumpah serapah ibu saya itu saya jadi merasa putus asa, tdk percaya diri,suka sendiri,tdk produktif,takut menikah karna takut punya anak,takut berteman,merasa tdk punya tujuan hidup,tdk berguna dan pastinya saya dendam dg dia.
    “Saya berencana suatu saat jika dia sudah lebih tua sedikit lagi..saya akan balas kekerasan fisik yg pernah dilakukannya ke saya. Saya tau ini salah..tp sumpah serapahnya sudah menghancurkan hidupku dan masa depanku.
    Saya gak pernah minta dilahirkan ke dunia.apakah dia merasa lebih senang jk sy gagal.
    Maka tunggulah ibu yg jahat akan saya wujudkan kata2mu jd anak durhaka..akan saya ikat ibu dikamar mandi dan saya tutup mulutnya kemudian saya pukuli pake sepatu dan akan saya siram dan saya biarkan tdk makan berhari2 dikamar mandi.persis seperti yg sering dia lakukan ke saya waktu kecil.
    Saya tau ini sy sdh jd anak durhaka..namun semua ini atas sumpah serapah ibu yg jadi doa yg Allah kabulkan..bukankah kata2 adalah doa..dan doa ibu ke anaknya akan langsung Allah kabulkan..

    Ibu kau hancurkan hidupku.aku membencimu..😒

    Suka

  51. Pembenci ibu mengatakan:

    Saya seorang dokter usia 29 thn blm mnikah.
    Dari kecil saya anak yg baik penurut dan berprestasi di sekolah hingga kuliah.
    Sejak kecil hingga sekarang jika sy melakukan sedikit kesalahan ibu saya akan melakukan kekerasan verbal dan fisik yg sgt menyakitkan hati saya dan tdk bisa sy lupakan.
    Ibu sy skrg usia 65 tahun.
    Saya benci dengan ibu sy yg selalu nyumpahin saya “anak yg tdk berguna dan anak durhaka..kelak akan punya anak durhaka dan tdk ada seorang pun laki2 yg mau sama saya, dan tdk akan ada yg mau berobat pd saya karna mnurutnya saya dokter yg gagal dan jelek”.
    Karna sumpah serapah ibu saya itu saya jadi merasa putus asa, tdk percaya diri,suka sendiri,tdk produktif,takut menikah karna takut punya anak,takut berteman,merasa tdk punya tujuan hidup,tdk berguna dan pastinya saya dendam dg dia.
    “Saya berencana suatu saat jika dia sudah lebih tua sedikit lagi..saya akan balas kekerasan fisik yg pernah dilakukannya ke saya. Saya tau ini salah..tp sumpah serapahnya sudah menghancurkan hidupku dan masa depanku.
    Saya gak pernah minta dilahirkan ke dunia.apakah dia merasa lebih senang jk sy gagal.
    Maka tunggulah ibu yg jahat akan saya wujudkan kata2mu jd anak durhaka..akan saya ikat ibu dikamar mandi dan saya tutup mulutnya kemudian saya pukuli pake sepatu dan akan saya siram dan saya biarkan tdk makan berhari2 dikamar mandi.persis seperti yg sering dia lakukan ke saya waktu kecil.
    Saya tau ini sy sdh jd anak durhaka..namun semua ini atas sumpah serapah ibu yg jadi doa yg Allah kabulkan..bukankah kata2 adalah doa..dan doa ibu ke anaknya akan langsung Allah kabulkan..

    Ibu kau hancurkan hidupku.aku membencimu..😒

    Suka

  52. kata hati seorang anak yang tidak pernah ingin membenci ortu mengatakan:

    Sebenarnya, ortu itu tidak ada yang jahat. Malah, mungkin saat kita tertidur, jari2 kasarnya(coz melakukan 1001 pkrjaan rumah) ttplah menyentuh lembut tubuh kita..menurut saya ortu hanya sedikit kecewa dan khilaf, saat kita tdak menjadi/melakukan hal yang sesuai harapan..ttp sayangi ortu kita,,biar gmna pun.dia ttp surga dunia kita..dan ttp pintu masuk ke surganya..
    Semoga di akhirat nanti, kita dapt berkumpul dgn ortu dan orang2 yang kita sayangi..aaamiin

    Suka

  53. yanuar mengatakan:

    Saya juga mempunyai pengalaman yang sama,orangtua saya khususnya ibu saya , dari saya kecil hingga saat ini usia saya hampir setengah abad perangai ibu saya yang arogan dan emosional tak pernah berubah.
    ibu saya saat ini ikut saya karena dari saya kecil tak memiliki rumah saya adalah anak tunggaldan sudah barang tentu sudah menjadi kewajiban saya mengurus beliau tetapi amat disayangkan dengan sikapnya yang selalu mengomel tak jelas Sumpah serapah sudah menjadi menu sehari hari padahal saya dan isteri saya selalu mengurusnya dengan baik bukannya bersyukur atau berterimakasih bahkan untuk mencari simpati orang lain (tetangga) ia selalu menjelekkan isteri saya dan saya padahal faktanya tidaklah demikian . Perlu diketahui selain ibu saya tidak berpendidikan ia juga sangaaat mendewakan materi bahkan kalaupun ia shalat khusus hanya memohon materi kepada Allah SWT ,seringkali saya menasehati beliau bahwa shalat itu merupakan kewajiban kita bukan kita menuntut terus pemberian Allah..dan perlu diketahui juga bahwa ibu saya sangat kurang pemahaman agamanya contohnya ketika saya remaja ibu saya konflik dengan mertuanya fan melarang ayah saya untuk bertemu ibu kandungnya hingga ayah saya dan ibunya sama2 wafat
    Dalam sumpah serapahnya selalu mendoakan yang jelek2 bagi kehidupan dan pekerjaan saya , lucu kan sedangkan hidupnya sampai saat ini masih menjadi tanggungan saya…makan ga bisa telat, makan harus enak menuntut hidup berkecukupan tetapi selalu rajin dengan sumpah serapahnya coba bayangkan jika sumpah itu dikabulkan oleh Allah SWT apa jadinya? Pasti ia juga akan menanggung akibatnya bagaikan melempar bola ke dinding, menurut saya ia sangat senang kalau hidupnya di bawah belas kasihan orang alias meminta minta pada orang lain
    Mah itulah gambaran singkat tentang ibu saya dan semoga cerita saya ini dapat menjadi iktibar dan ibu saya segera mendapatkan hidayah dari Allah SWT aamiien !

    Suka

  54. anonimous mengatakan:

    Benar sekali perkataan orang tua sangat berpengaruh terhadap masa depan anak. di wktu kecil orang tua (ayah) sy sering mengatakan saya sangat pemalu dan memiliki gigi yang sangat buruk. Ayah saya mungkin menganggap itu hal yang sangat biasa dan tidak berefek, tapi hal itu menjadi sebuah kenyataan. Dan itu terjadi sejak masuk SMP hingga saat ini, saya benar-benar menjadi sangat pemalu dan gigi sy menjadi sangat buruk di bandikan ketika saya SD. Sampai sekarang pun Ayah saja masih saja selalu menghina dan meremehkan saya. Jujur saya sangat membenci apa yang ayah saya lakukan, bahkan pernah beberapa bulan sya tidak pernah bertegur sapa sama sekali. tpi sy sadar ini tidaklah benar seburuk apapun Ayah sy tetap harus menghormatinya. walau bagaimana pun ayah juga memiliki sisi baiknya meski tidak beasr.

    “Satu perkataan buruk orang tua lebih menyakitkan dibandingkan Seribu perkataan orang lain.”

    Suka

  55. Park Jimin mengatakan:

    Ayah saya selalu berkata kasar kepada saya. Bahkan di saat saya bertanya baik2 dia selalU berkata kasar. Dia mengatakan saya anak monyet, dan saya bodoh. Dia menyesal memiliki saya. Saya sedih akan hal ini. Di tambah pandangan orang yang menganggap saya orang yang ceroboh dan plin plan membuat diri saya terpuruk begitu jauh. Saya merasa tak ada yang begitu peduli terhadap diri saya. Bahkan guru saya sendiri pun menganggap saya orang yang tak berguna. Apa salah saya?
    Jujur saja, hari ke hari saya selalu berusaha untuk membuat orang menghargai saya. Tapi saya rasa itu percuma. Saya selalu mencari apa kesalahan dalam diri saya, memperbaikinya. Namun semua nya tak berguna.

    Suka

  56. Fara Adhelita mengatakan:

    saya berusia 25 tahun.. dari kecil ibu saya selalu mendidik dgn disiplin sampai2 saya tidak diizinkan bermain keluar dr halaman rmh..disaat ank lain bermain, saya yg masih SD kala itu harus mengerjakan pekerjaan rumah setiap sore seperti menyapu dan mengepel terkadang membilas pakaian jg.. jika saya tidak bersih membersihkan rumah maka saya akan disuruh mengulangi membersihkan rumah.. bahkan pernah dulu ketika saya msh SD, rambut saya di gunting compang camping oleh ibu saya. jika saya berbuat salah, kaki saya selalu dipukul menggunakan ikat pinggang hingga berbekas, dicubit hingga biru.. waktu saya SD sampai SMP ketika ibu saya marah, beliau sering mengatakan kata2 kasar – maaf “( dasar ank pantek).. Hingga saya besar dan yah terkadang cek cok dgn ibu saya, saya jd ank yg berlidah tajam..
    lalu saya merasa seperti paranoid yg setiap sore harus membersihkan rumah nyapu dan ngepel.. ibu saya sering melakukan perjalanan kerja keluar kota, bahkan setiap beliau tdk d rmh pun saya selalu menyapu dan mengepel layakny beliau ada d rmh.. Jika saya akan pergi keluar maka saya harus membersihka rmh terlebih dahulu, jika tidak ibu saya akan mengomel, menelpon saya sambil marah2 dan menyuruh saya utk segera pulang.. teman dan keluarga saya sering berkomentar ” halah bersihkan rmh terus kek presiden mau datang aj, kok ank dijadiin babu (tante saya yg berbicara), aku yg capek lihat km bersihin rmh sampe segituny (tmn yg berbicara)..
    di usia yg skrg, jika saya ribut dgn ibu saya, saya jd gampang emosi dan bersikap acuh serta berkata kasar.. lalu kami bisa tdk berbicara berminggu2.. jika saya cekcok dgn ibu saya, adk saya pun ikut bersikap kasar kepada saya.. ibu dan ayh saya sdh kurang lebih 6 tahun bercerai.. saya jd pribadi yg tertutup lbh sering mengurung diri di kamar, teman2 tidah banyak, bisa dihitung dgn jari.. saya sering merasa kecil hati dan ingin meninggalkan rumah ini tapi saya masih takut..

    Suka

  57. Saha we lah mengatakan:

    Saya laki2 berumur 15 tahun. Dari kecil sampe sekarang saya sering di bully dan disiksa oleh kedua orang tua saya. Pernah saya sewaktu kecil dipukul pake pancingan sampe kail nya kena punggung. Pernah dilempar pisau hampir kena kepala. Terus aja saya disiksa sampe saya merasa lelah dan pernah waktu saya berumur 13 tahun entah 14 saya pukuli ibu saya, saya jadikan samsak karena saya dibilang anak anjing anak goblog, dan saya dipukuli karena saya jogging ga bilang2. Nah mungkin lelah pulang jogging emosi ga ke kontrol. Lalu setelah itu saya dipukulin balik oleh si anjing ayah. Saya diusir dari rumah ampe malem ga pulang eh si anjing jemput lagi, minta maaf segala lagi. Padahal udah bengep nih muka ditonjokin. Ah banyak diceritain ga bakal semua ini baru 1% ceritanya gan haha. Setiap hari setiap detik pasti kata anjing,setan,babi,monyet keluar. Kena pukul udah biasa jambak atau tendang.

    Suka

Mari Berdiskusi

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s